Oleh Gede Prama
Setiap manusia pada hakikatnya adalah pejalan-pejalan kehidupan. Semuanya harus berjalan, & tidak ada pilihan lain terkecuali harus berjalan. Pertanyaan klasik yang kerap diungkapkan banyak orang, kemana perjalanan ini ditujukan? Bila Anda melemparkan pertanyaan ini ke banyak orang, mungkin jawabannya akan sebanyak orang yang Anda tanya. Ada yang mecari harta, tahta, penyucian jiwa, ada yang sekedar berjalan untuk perjalanan itu sendiri, memuaskan nafsu, menikmati hidup, dan tentu saja masih banyak lagi yang lain.
Seperti kegiatan mendaki gunung, disamping jalan yang ditempuh berbeda, puncak gunung kehidupan yang dicari juga berbeda-beda. Mungkin benar apa yang pernah ditulis seorang sahabat, kehidupan hanya memberikan kesempatan tanpa kewajiban, & kita manusia boleh memilih kesempatan yang dihadirkan di depan mata.
Dalam hamparan besar alternatif kesempatan yang hadir di depan kita, boleh saja ada orang memilih harta, tahta, memuaskan nafsu, menikmati perjalanan, bersyukur dengan setiap langkah, namun tidak bisa dihindari kalau setiap perjalanan akan bertemu beragam kejadian. Kadang berhasil, kadang gagal. Sekali waktu bertemu teman, lain kesempatan dihadang musuh. Pagi hari dijemput suka cita, sorenya ditemui derita. Begitulah warna perjalanan hampir setiap manusia. Lelah tentu saja. Tidak ada orang yang bisa berhenti lama dalam perjalanan panjang yang bernama kehidupan. Berjalan, berjalan dan terus berjalan, itulah hukum besinya kehidupan.
Tidak ada manusia yang bisa memberi jawaban yang memuaskan semua orang, apa dan bagaimana wajah kehidupan di puncak sana. Daripada memperdebatkan wajah kehidupan disana, izinkan saya membawa Anda ke dalam rangkaian perenungan tentang perjalanan kita disini dan di hari ini.
Saya berhutang pada Thich Nhat Hanh yang memberi judul je salah satu bukunya dengan judul Peace is Every Step. Kedamaian itu ada dalam setiap langkah. Ya, dalam setiap langkah yang kita lakukan di hari ini dan di tempat ini tersedia kedamaian. Ia tidak melakukan seleksi. Apakah itu orang baik atau orang jahat. Entah itu anak pejabat atau anak orang biasa. Ataukah seseorang naik mobil atau naik ojek. Semuanya didatangi kedamaian. Perbedaannya hanya satu, ada orang yang melihat, mendengar dan merasakan kedamaian itu hadir. Ada yang tidak pernah menemukannya.
Salahnya memang bukan pada kedamaian yang pilih kasih. Akan tetapi, pada kualitas keheningan & kepekaan kita dalam bersahabat dengan kedamaian. Hakikat manusia di zaman ini memang diwarnai oleh banyak keserakahan. Mau sukses tanpa mau menemukan kegagalan. Berkehendak hidup penuh dengan suka cita, menolak duka cita. Bertemu teman gembira, bertemu musuh tidak mau.
Sayangnya, sejak kehidupan itu ada, keduanya slalu bergandengan (sukses-gagal, suka-derita, teman-musuh). Tidak pernah keduanya lepas tangan barang sedetik sekalipun. Sehingga siapa saja yang mau menerima salah satunya, dan menolak yang lain, pasti mudah lelah dan capek.
Saya punya sahabat yang sering mengaku kelelahan. Padahal sudah berada di kursi tertinggi, dikagumi banyak orang, dan hartanya pun melimpah. Sahabat lain, ada lagi yang bolak-balik masuk rumah sakit. Belum lagi ditambah dengan keluarganya yang diisi banyak sekali perkelahian. Padahal ia hidup dalam kolam kehidupan materi yang berlimpah. Tidak hanya diatas, dibawah pun dijejali oleh orang-orang yang bisa mengeluh.
Bertolak dari kelelahan semacam inilah kemudian, sejak dulu ada banyak orang yang belajar untuk menerima keduanya dengan kualitas kemesraan yang sama. Acceptance without judgement, demikianlah kira-kira pedoman sederhana orang-orang jenis ini. Menerima keduanya tanpa memberikan stempel, tanpa memilah-milah, apalagi membuang salah satunya.
Tidak mudah memang, karena sejak dulu juga kita sudah diwarisi keserakahan utnuk senantiasa memilih. Dalam tataran ini, Hugh Down pernah menulis: A happy person is not a person in a certain set of circumstances, but rather a person with a certain set of attitudes. Orang bahagia, lebih terkait dengan serangkaian sikap dibandingkan serangkaian keadaan.
Sikap ini pula yang bisa membuat kita bisa bertemu kedamaian di setiap langkah. Entah sikap apa yang Anda telah dan sedang kembangkan. Izinkan saya berbagi sikap yang sedang saya internalisasikan didalam tubuh dan jiwa ini. Setelah lama dibikin lelah oleh keserakahan untuk senantiasa memilih, saya mendidik diri berada dalam barisan orang yang hidup dalam acceptance without judgement. menerima tanpa terlalu banyak memilih. Ketika duduk di kursi yang cukup tinggi, uang memang datang lebih deras. Ketika turun, ada banayk waktu untuk merenung dalam keheningan.
Pada tahapan kehidupan, dimana suka-derita, teman-musuh, sukses-gagal keduanya kita tempatkan sebagai kekayaan-kekayaan kehidupan yang sama berharganya, bukankah kita sudah sampai di puncak kehidupan? Suka cita memang indah, tapi bukankah derita yang membuatnya jadi demikian> Teman memang sahabatnya canda, tetapi bukankah musuh adalah guru kebijakan yang dikirim oleh tangan-tangan kehidupan. Sukses memang menyenangkan, namun bukankah gagal yang membuat rasanya jadi tidak hambar?
Saya amat bersyukur pada sang kehidupan, karena sudah terbawa pada tataran pemahaman seperti ini. Ketika pelukan terhadap keduanya sama mesranya, bertemulah keadaan yang disebut Thich Nhat Hanh sebagai Peace is Every Step.
Setiap manusia pada hakikatnya adalah pejalan-pejalan kehidupan. Semuanya harus berjalan, & tidak ada pilihan lain terkecuali harus berjalan. Pertanyaan klasik yang kerap diungkapkan banyak orang, kemana perjalanan ini ditujukan? Bila Anda melemparkan pertanyaan ini ke banyak orang, mungkin jawabannya akan sebanyak orang yang Anda tanya. Ada yang mecari harta, tahta, penyucian jiwa, ada yang sekedar berjalan untuk perjalanan itu sendiri, memuaskan nafsu, menikmati hidup, dan tentu saja masih banyak lagi yang lain.
Seperti kegiatan mendaki gunung, disamping jalan yang ditempuh berbeda, puncak gunung kehidupan yang dicari juga berbeda-beda. Mungkin benar apa yang pernah ditulis seorang sahabat, kehidupan hanya memberikan kesempatan tanpa kewajiban, & kita manusia boleh memilih kesempatan yang dihadirkan di depan mata.
Dalam hamparan besar alternatif kesempatan yang hadir di depan kita, boleh saja ada orang memilih harta, tahta, memuaskan nafsu, menikmati perjalanan, bersyukur dengan setiap langkah, namun tidak bisa dihindari kalau setiap perjalanan akan bertemu beragam kejadian. Kadang berhasil, kadang gagal. Sekali waktu bertemu teman, lain kesempatan dihadang musuh. Pagi hari dijemput suka cita, sorenya ditemui derita. Begitulah warna perjalanan hampir setiap manusia. Lelah tentu saja. Tidak ada orang yang bisa berhenti lama dalam perjalanan panjang yang bernama kehidupan. Berjalan, berjalan dan terus berjalan, itulah hukum besinya kehidupan.
Tidak ada manusia yang bisa memberi jawaban yang memuaskan semua orang, apa dan bagaimana wajah kehidupan di puncak sana. Daripada memperdebatkan wajah kehidupan disana, izinkan saya membawa Anda ke dalam rangkaian perenungan tentang perjalanan kita disini dan di hari ini.
Saya berhutang pada Thich Nhat Hanh yang memberi judul je salah satu bukunya dengan judul Peace is Every Step. Kedamaian itu ada dalam setiap langkah. Ya, dalam setiap langkah yang kita lakukan di hari ini dan di tempat ini tersedia kedamaian. Ia tidak melakukan seleksi. Apakah itu orang baik atau orang jahat. Entah itu anak pejabat atau anak orang biasa. Ataukah seseorang naik mobil atau naik ojek. Semuanya didatangi kedamaian. Perbedaannya hanya satu, ada orang yang melihat, mendengar dan merasakan kedamaian itu hadir. Ada yang tidak pernah menemukannya.
Salahnya memang bukan pada kedamaian yang pilih kasih. Akan tetapi, pada kualitas keheningan & kepekaan kita dalam bersahabat dengan kedamaian. Hakikat manusia di zaman ini memang diwarnai oleh banyak keserakahan. Mau sukses tanpa mau menemukan kegagalan. Berkehendak hidup penuh dengan suka cita, menolak duka cita. Bertemu teman gembira, bertemu musuh tidak mau.
Sayangnya, sejak kehidupan itu ada, keduanya slalu bergandengan (sukses-gagal, suka-derita, teman-musuh). Tidak pernah keduanya lepas tangan barang sedetik sekalipun. Sehingga siapa saja yang mau menerima salah satunya, dan menolak yang lain, pasti mudah lelah dan capek.
Saya punya sahabat yang sering mengaku kelelahan. Padahal sudah berada di kursi tertinggi, dikagumi banyak orang, dan hartanya pun melimpah. Sahabat lain, ada lagi yang bolak-balik masuk rumah sakit. Belum lagi ditambah dengan keluarganya yang diisi banyak sekali perkelahian. Padahal ia hidup dalam kolam kehidupan materi yang berlimpah. Tidak hanya diatas, dibawah pun dijejali oleh orang-orang yang bisa mengeluh.
Bertolak dari kelelahan semacam inilah kemudian, sejak dulu ada banyak orang yang belajar untuk menerima keduanya dengan kualitas kemesraan yang sama. Acceptance without judgement, demikianlah kira-kira pedoman sederhana orang-orang jenis ini. Menerima keduanya tanpa memberikan stempel, tanpa memilah-milah, apalagi membuang salah satunya.
Tidak mudah memang, karena sejak dulu juga kita sudah diwarisi keserakahan utnuk senantiasa memilih. Dalam tataran ini, Hugh Down pernah menulis: A happy person is not a person in a certain set of circumstances, but rather a person with a certain set of attitudes. Orang bahagia, lebih terkait dengan serangkaian sikap dibandingkan serangkaian keadaan.
Sikap ini pula yang bisa membuat kita bisa bertemu kedamaian di setiap langkah. Entah sikap apa yang Anda telah dan sedang kembangkan. Izinkan saya berbagi sikap yang sedang saya internalisasikan didalam tubuh dan jiwa ini. Setelah lama dibikin lelah oleh keserakahan untuk senantiasa memilih, saya mendidik diri berada dalam barisan orang yang hidup dalam acceptance without judgement. menerima tanpa terlalu banyak memilih. Ketika duduk di kursi yang cukup tinggi, uang memang datang lebih deras. Ketika turun, ada banayk waktu untuk merenung dalam keheningan.
Pada tahapan kehidupan, dimana suka-derita, teman-musuh, sukses-gagal keduanya kita tempatkan sebagai kekayaan-kekayaan kehidupan yang sama berharganya, bukankah kita sudah sampai di puncak kehidupan? Suka cita memang indah, tapi bukankah derita yang membuatnya jadi demikian> Teman memang sahabatnya canda, tetapi bukankah musuh adalah guru kebijakan yang dikirim oleh tangan-tangan kehidupan. Sukses memang menyenangkan, namun bukankah gagal yang membuat rasanya jadi tidak hambar?
Saya amat bersyukur pada sang kehidupan, karena sudah terbawa pada tataran pemahaman seperti ini. Ketika pelukan terhadap keduanya sama mesranya, bertemulah keadaan yang disebut Thich Nhat Hanh sebagai Peace is Every Step.

0 Comments:
Post a Comment